Wabah Virus Yang Pernah Menggemparkan Dunia

Wabah Virus Yang Pernah Menggemparkan Dunia
Kompas.com

Wabah Virus – Wabah virus Corona tengah menarik perhatian dunia. Menurut laporan, virus baru ini telah ditemukan di Amerika Serikat sejak Wuhan, China. Virus adalah mikroorganisme patogen yang hanya dapat bereplikasi di dalam sel hidup karena tidak memiliki peralatan seluler untuk menggandakan diri. Dari hewan dan tumbuhan hingga bakteri dan archaea, semua bentuk kehidupan dapat terinfeksi oleh virus. Istilah virus sering digunakan untuk menggambarkan jenis virus yang menginfeksi sel eukariotik, sedangkan virus yang menginfeksi sel prokariotik (seperti bakteri dan archaea) disebut bakteriofag. Keberadaan virus pertama kali ditentukan oleh Dmitri Ivanovsky dalam makalah ilmiah pada tahun 1892, yang menjelaskan patogen non-bakteri yang menginfeksi tanaman tembakau, dan virus mosaik tembakau ditemukan oleh Martinus Beijerinck pada tahun 1898. Pada 2019, lebih dari 6.000 virus telah dijelaskan secara rinci, total ada jutaan virus di lingkungan. Virus ditemukan di hampir setiap ekosistem di planet ini, dan mereka adalah entitas biologis yang paling melimpah. Studi tentang virus disebut virologi, yang merupakan sub-spesialisasi mikrobiologi.

Virus ini dikenal berjangkit di Wuhan semenjak Desember 2019, setelah itu pada dini Januari 2020, Badan Kesehatan Bumi World Health Organization mengenali virus asal Cina itu selaku roman coronavirus( 2019- nCoV). Dikutip dari CNN, daulat kesehatan Cina mengatakan virus itu dapat meluas dari orang ke orang. Virus itu bisa menimbulkan pneumonia ataupun radang alat pernapasan. Tidak hanya Tidak cuma virus Corona, berikutnya beberapa virus lain yang senggang menggemparkan di dunia.

1. Flu Burung

Flu Burung
Bisnis.com

emailsangel – Flu burung merupakan penyakit peradangan yang diakibatkan oleh virus influenza jenis A yang ditularkan oleh angsa ke orang. Terdapat banyak tipe virus flu burung, namun cuma sebagian yang bisa menimbulkan peradangan pada orang. Flu kukila sempat berjangkit di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan sebagian bagian Eropa, serta menimbulkan kematian pada beberapa pengidapnya. Bagi informasi tubuh kesehatan dunia ataupun World Health Organization( World Health Organization), virus flu burung tipe H5N1 sudah menjangkiti 861 orang di semua bumi serta menimbulkan kematian pada 455 orang sampai tahun 2019.

Avian influenza disebabkan oleh infeksi virus influenza A yang berasal dari unggas. Beberapa besar tipe virus flu kukila cuma bisa melanda serta menginfeksi angsa buas serta peternakan, semacam ayam, angsa, angsa, serta burung. Tetapi terdapat sebagian tipe virus avian influenza yang bisa menginfeksi orang ialah H5N1, H5N6, H5N8 serta H7N9. Sebagian situasi yang bisa tingkatkan resiko terjangkit virus avian influenza merupakan: Kontak dengan angsa yang terkena ataupun sedang hidup Kontak dengan kotoran, air liur serta cairan pekat angsa yang terkena Menghisap tetes respirasi yang memiliki virus Makan daging ataupun telur anom yang kurang matang dari angsa yang terkena. Pertanda flu burung umumnya terkini timbul 3- 5 hari sehabis terhampar virus. Pertanda yang timbul dapat bermacam- macam dari yang enteng hingga yang berat. Meski sering- kali orang yang terkena virus avian influenza bisa jadi tidak merasakan pertanda apapun, dengan cara biasa pengidap avian influenza hendak hadapi pertanda selaku selanjutnya: meriang, batu berdahak, sakit kerongkongan, Sakit otot sakit kepala, keletihan, Hidung meler ataupun tersendat, Susah bernafas.

Mengutip pemberitaan harian Kompas pada 26 Januari 2004, wabah flu burung pertama kali ditemukan di Italia pada tahun 1878. Tetapi orang-orang tidak menyadarinya sampai wabah besar di peternakan ayam di Amerika Serikat (AS) dari tahun 1924 hingga 1925. Saat itu, flu burung masih menular pada unggas dan tidak menyebar ke hewan lain.Pada bulan Maret 1997, flu burung subtipe H5N1 mulai menyerang peternakan ayam di Hong Kong. Dua bulan kemudian, flu itu menular ke seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Saat itu belum ditemukan obatnya, sehingga anak tersebut meninggal. Selain itu, pada Desember 1997, 17 orang di Hong Kong juga terinfeksi virus yang sama. Selanjutnya, pemerintah mulai memusnahkan 1,5 juta ayam. Virus tersebut menyebabkan 17 orang yang terjangkit flu burung menderita komplikasi yang cukup serius, seperti pneumonia dan radang meningeal. Lima dari mereka akhirnya meninggal, sehingga jumlah total kematian menjadi enam.

Pada Februari 2003, virus H5N1 (flu burung) kembali menyerang Hongkong dan menjangkiti dua orang. Satu korban kemudian meninggal. Kemudian virus H5N1 menjadi fokus utama para ahli karena bisa bermutasi dengan cepat. Virus juga dapat menjelma menjadi beberapa subtipe virus baru, yang dapat menyebar ke spesies lain, termasuk manusia. Harian Kompas memberitakan, pada 25 Januari 2004, flu burung di Indonesia menyebabkan kematian 10 juta ayam petelur. Penyakit ini telah menyebar sejak Oktober 2003. Ayam petelur mati di sebagian wilayah Jawa Timur dan Indonesia.

Baca Juga : Kecelakaan Lalu Lintas Sebulan Terakhir Di Tana Air

2. Flu babi

Flu babi
Merdeka.com

Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus influenza H1N1. Dinamakan flu babi karena pertama kali terjadi pada babi dan kemudian menginfeksi manusia. Penyebaran berikutnya terjadi dari orang ke orang dan menyebabkan pandemi pada tahun 2009. Flu babi bisa menyebar dengan cepat. Penyakit ini menyebar saat orang sehat menghirup tetesan pasien saat bersin atau batuk. Anda akan merasakan gejala baru 1-4 hari setelah terinfeksi virus flu babi. Flu babi lebih mungkin menyebar ke anak-anak, orang tua, wanita hamil dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Dikutip Kompas pada 27 April 2009, kasus virus flu babi telah terdeteksi di Meksiko, Amerika Serikat, Selandia Baru, Israel, dan Prancis. Kemudian pada 26 April 2009, Asia memasuki waspada flu babi. Pemerintah telah mengambil beberapa langkah. Jepang telah meningkatkan inspeksi penumpang dari Meksiko yang turun di bandara internasional. Petugas karantina juga aktif mendistribusikan hidung dan masker, serta menggunakan teknologi kamera pemindai suhu untuk memeriksa gejala flu atau demam penumpang.

Penularan virus H1N1 mirip dengan virus influenza lainnya, yaitu jika Anda menghirup tetesan dari seseorang yang sedang bersin atau batuk. Jika tetesan yang mengandung virus menempel pada mata, hidung dan mulut orang sehat, penularan juga dapat terjadi. Masa inkubasi virus flu babi (waktu sejak terpapar virus hingga timbulnya gejala) adalah sekitar 1-4 hari. Gejala flu babi mirip dengan flu biasa, sehingga sulit membedakan keduanya. Gejala flu babi yang mungkin terjadi adalah: demam, kelelahan, rasa sakit sakit kepala, Pilek dan hidung tersumbat, Mata merah dan berair, sakit tenggorokan, ruam, diare, Mual dan muntah, batuk, Sulit bernafas.

Korea Selatan, China, dan Taiwan juga mengikuti kebijakan yang sama. Tidak hanya itu, penguasa atau pemerinatah Korea Selatan sudah mempraktikkan karantina pada daging babi yang diimpor dari Meksiko serta Amerika Sindikat. Pemerintah Rusia bahkan melarang impor daging dari Meksiko, beberapa negara bagian di Amerika Serikat, dan sembilan negara di Amerika Latin. Seperti diberitakan Harian Kompas 18 Juli 2009, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencontohkan, pandemi influenza H1N1 menyebar secara global dengan laju yang mengkhawatirkan atau tidak terduga. Flu babi juga masuk ke Indonesia melalui wisatawan yang bepergian ke daerah yang terkena penyakit.

3. Cacar Monyet

Cacar Monyet
Alodokter

cacar monyet adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam ulseratif pada kulit. Penyakit ini terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Nigeria. Namun, pada 9 Mei 2019, pemerintah Singapura melaporkan penyakit itu ada di Singapura. Pada awalnya, gejala cacar monyet mirip dengan cacar air, atau ruam air. Saat penyakit berkembang, ruam yang encer dapat berubah menjadi nanah dan menyebabkan benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan karena pembesaran kelenjar getah bening. Monkeypox disebabkan oleh virus monkeypox Virus monkeypox ditularkan melalui droplet penderita, yang masuk melalui mata, mulut, hidung atau luka pada kulit. Selain air liur yang tumpah, penularan juga bisa dilakukan melalui benda yang terkontaminasi (seperti pakaian pasien). Meski begitu, penularan dari manusia ke manusia masih terbatas, membutuhkan kontak jangka panjang.

5-21 hari setelah infeksi virus monkeypox, gejala penyakit monkeypox akan muncul. Gejala awal monkeypox adalah: demam gemetaran Kelelahan atau kelemahan sakit kepala Sakit otot Kelenjar getah bening bengkak (berupa benjolan di leher, ketiak atau selangkangan). Gejala awal monkeypox bisa berlangsung 1-3 hari atau bahkan lebih lama. Setelah itu akan muncul ruam di wajah dan menyebar ke bagian tubuh lain, seperti lengan dan kaki. Ruam yang muncul akan berkembang dari ruam berisi cairan menjadi ruam berisi nanah, yang kemudian pecah dan membengkak sehingga menimbulkan borok di permukaan kulit. Ruam bisa berlangsung selama 2-4 minggu.

Berdasarkan laporan Harian Kompas pada 11 Mei 2019, Singapura pertama kali melaporkan kasus monkeypox pada 9 Mei 2019. Penyakit itu dibawa oleh seorang pria (38 tahun) di Nigeria. Gejala yang dialami orang tersebut adalah demam, benjolan kulit, nyeri otot dan menggigil. Penyakit ini endemik di Afrika Tengah dan Afrika Barat. Setidaknya 23 orang melakukan kontak dengan pria tersebut. Mereka yang sedang berada di negara Singapura akan dilakukan karantina selama 21 hari.

kasus monkeypox pertama kali dilaporkan di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970. Pada tahun 2003, kasus kontak manusia dengan “anjing” atau hewan pengerat herbivora yang terinfeksi tikus Afrika dilaporkan di Amerika Serikat. Karena penularannya dari monyet, tikus Gambia, dan tupai, virus tersebut disebut cacar monyet.

Baca Juga : Kasus Begal Di Awal Tahun 2021

4. SARS

SARS
France24

Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh SARS-related coronavirus (SARS-CoV). Gejala awalnya mirip dengan flu, tetapi cepat memburuk. SARS awal kali ditemui di Provinsi Guangdong, Tiongkok pada tahun 2002 serta terkini ditemui pada dini tahun 2003. Penyakit tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai negara. SARS ialah penyakit yang menular. Penjangkitan SARS terjalin dikala seorang tidak terencana menghisap recikan air liur yang dikeluarkan oleh pengidap SARS dikala bersin ataupun batu berdahak.

Gejala SARS dikenal dengan malaise, mialgia, demam, kemudian gejala pernafasan seperti batuk dan kesulitan bernafas. Gejala juga bisa disertai diare. Gejala ini akan bertambah parah 10 hari setelah dimulainya viremia dan beberapa hari kemudian. Penyebabnya adalah virus corona. SARS ditularkan melalui kontak yang dekat, seperti saat merawat sekret / cairan tubuh seseorang atau kemungkinan pasien, tinggal bersama seseorang atau tinggal serumah dengan seseorang. Diyakini bahwa cara utama penularan adalah melalui tetesan dan kemungkinan pakaian serta peralatan yang terkontaminasi.

Dikutip dari Harian Kompas tanggal 1 April 2003, penyebaran virus tersebut menimbulkan kepanikan dimana-mana. Akibatnya, banyak orang membatalkan kunjungan mereka ke negara tempat penyakit itu teridentifikasi. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia, daerah yang terinfeksi adalah Beijing, Guangdong, Shanxi dan Hong Kong (China), Taipei (Taiwan), Hanoi (Vietnam), Toronto (Kanada) dan Singapura.

Dikutip dari Harian Kompas pada 3 Januari 2004, kasus teerjadinya penyakit SARS pertama kali di dunia telah tercatat di Guangdong pada November 2002. Penyakit serupa influenza menyebabkan 349 kematian di daratan Cina, dan total 774 kematian di seluruh dunia. Lebih dari 8.000 orang terinfeksi. Gejala SARS dimulai dengan demam, suhu tubuh mencapai 38 derajat Celcius, batuk kering, sesak nafas, dan kontak dengan pasien di negara yang mengalami kasus SARS.

5. Ebola

Ebola
The New York times

Virus Ebola adalah parasit paling berbahaya dan mudah menular. Jika terinfeksi, 90% di antaranya pasti akan menyebabkan kematian. Virus ini merupakan salah satu virus paling mematikan dan dapat membunuh korbannya dalam beberapa hari. Virus Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Afrika pada tahun 1976. Virus Ebola sendiri awalnya hidup pada hewan dan kemudian menginfeksi manusia melalui darah hewan yang tercemar oleh virus tersebut.

Penderita biasanya merasakan gejala yang ditimbulkan oleh virus Ebola dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi. Beberapa gejalanya antara lain: Meriang, Perih kepala yang berat, Menggigil, Lemas, Mual serta muntah, Berak air yang bisa diiringi darah, Mata merah, Ruam pada kulit, Perih dada, Batu berdahak, Penyusutan berat tubuh, Epistaksis dari mata, kuping, hidung, serta anus. Penyakit ini penyebabnya oleh virus Ebola yang pada awal mulanya ditemui pada binatang seperti monyet, simpanse serta primata yang lain. Virus Ebola ditularkan lewat kontak langsung dengan darah ataupun larutan badan orang( semacam kemih, berak, air liur, serta air benih) serta lewat hidung, mata, mulut, ataupun cedera terbuka orang segar.

Menurut laporan harian Kompas pada 3 Juli 2014, virus Ebola telah melanda negara-negara Afrika Barat. Ini telah menyebar sejak Januari 2014. Namun, WHO menyatakan bahwa virus Ebola pertama kali terdeteksi di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976 lalu di Zaire. Enam bulan setelah Januari 2014, 500 orang dilaporkan tewas. Jumlah korban terus meningkat pasca bencana. Pada 15 Januari 2016, dikutip dari surat kabar Kompas bahwa Ebola menewaskan lebih dari 11.000 orang di Afrika Barat setelah muncul di selatan Guinea pada Desember 2013. Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan pada 14 Januari 2016 bahwa epidemi Ebola yang telah melanda Afrika Barat selama dua tahun telah berlalu. Ini setelah Liberia, negara yang terkena dampak terakhir, dinyatakan bersih.